BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Suatu hal lumrah jika kebudayaan yang mundur akan belajar dari kebudayaan
yang maju. Adalah alami jika suatu kebudayaan yang terbelakang mengadopsi
konsep-konsep kebudayaan yang lebih maju. Tidak ada kebudayaan di dunia ini
yang berkembang tanpa proses interaksi dengan kebudayaan asing. Ketika
peradaban Islam unggul dibanding peradaban Eropa, misalnya, mereka telah
meminjam konsep-konsep penting dalam Islam, akan tetapi, tidak berarti bahwa
semua kebudayaan dapat mengambil semua konsep dari kebudayaan lain. Setiap
kebudayaan memiliki identitas, nilai, konsep dan ideologinya sendiri-sendiri
yang disebut dengan worldview (pandangan hidup).
Suatu kebudayaan dapat meminjam konsep-konsep kebudayaan lain karena
memiliki pandangan hidup. Namun suatu kebudayaan tidak dapat meminjam
sepenuhnya (mengadopsi) konsep-konsep kebudayaan lain, sebab dengan begitu ia
akan kehilangan identitasnya. Peminjaman konsep dari suatu kebudayaan
mengharuskan adanya proses integrasi dan internalisasi konseptual. Namun dalam
proses itu, unsur-unsur pokoknya berperan sebagai filter yang menentukan
diterima tidaknya suatu konsep. Hal ini berlaku dalam sejarah pemikiran dan
peradaban Islam, yaitu ketika Islam meminjam khazanah pemikiran Yunani, India,
Persia, dan lain-lain. Pelajaran yang penting dicatat dalam hal ini bahwa
ketika para ulama meminjam konsep-konsep asing, mereka berusaha
mengintegrasikan konsep-konsep asing ke dalam pandangan hidup Islam dengan asas
pandangan hidup Islam. Memang, proses ini tidak bias berlangsung sekali jadi.
Perlu proses koreksi-mengoreksi dan itu berlangsung dari generasi ke generasi.
Di era modern dan
post-modern sekarang ini, pemikiran dan kebudayaan Barat mengungguli
kebudayaan-kebudayaan lain, termasuk peradaban Islam. Namun tradisi
pinjam-meminjam yang terjadi telah bergeser menjadi proses adopsi, yakni
mengambil penuh konsep-konsep asing, khususnya Barat, tanpa proses adaptasi
atau integrasi. Apa yang dimaksud dengan konsep di sini bukan dalam kaitannya
dengan sains dan teknologi yang bersifat eksak, tetapi lebih berkaitan dengan
konsep keilmuan, kebudayaan, sosial, dan bahkan keagamaan.
Dalam konteks
pembangunan peradaban Islam sekarang ini, proses adaptasi pemikiran merupakan
sesuatu yang tidak dapat dielakkan. Namun sebelum melakukan hal itu diperlukan
suatu kemampuan untuk menguasai pandangan hidup Islam dan sekaligus Barat,
esensi peradaban Islam dan kebudayaan Barat. Dengan demikian, seorang
cendekiawan dapat berlaku adil terhadap keduanya.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dalam latar belakang masalah di atas, dapat dibuat
beberapa poin masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana proses peradaban Islam masuk ke dunia barat?
2. Apa saja pengaruh peradaban Islam terhadap dunia barat?
BAB II
PEMBAHASAN
A. PERADABAN ISLAM
1. Pengertian Peradaban Islam
Peradaban dalam
bahasa Arab sering diidentikan dengan tiga mufradat/kosa kata, yaitu hadarah,
tamaddun dan saqafah dan ‘umran. Hadarah secara harfiah
berasal dari akar kata ha-da-ra yang berarti menghendaki sesuatu,
kedatangan sesuatu dan menyaksikan sesuatu. Jika akar katanya berasal dari ma-da-na
maka maknanya adalah membangun, mendirikan kota, memajukan, memurnikan dan
memartabatkan, sedangkan jika akar katanya adalah da-ya-na maka makna
dasarnya adalah jenis dari kepatuhan dan kehinaan kemudian berkembang menjadi madinah
yang artinya kota karena di dalam tegak kepatuhan terhadap pemimpin.
Sedangkan tamaddun
jika berasal dari da-ya-na maka hal tersebut dapat dimaklumi karena
Islam yang diturunkan sebagai din, sejatinya telah memiliki konsep
minimal sebagai peradaban. Sebab kata din itu sendiri telah membawa
makna keberhutangan, susunan kekuasaan, struktur hukum, dan kecenderungan
manusia untuk membentuk masyarakat yang mentaati hukum dan mencari pemerintah
yang adil. Artinya dalam istilah din itu tersembunyi suatu sistem
kehidupan. Oleh sebab itu ketika din (agama) Allah yang bernama Islam
itu telah disempurnakan dan dilaksanakan di suatu tempat, maka tempat itu
diberi nama madinah.
Dalam Kamus Bahasa Indonesia disebutkan dua arti peradaban. 1) Kemajuan
(kecerdasan, kebudayaan) lahir batin: bangsa-bangsa di dunia ini tidak sama
tingkat peradabannya; dan 2) Hal yang menyangkut sopan santun, budi bahasa, dan
kebudayaan suatu bangsa.
Muhammad Kazim
Makkiy menyebutkan beberapa elemen dan kriteria peradaban:
a. Khazanah kemanusiaan. Artinya setiap masyarakat manusia mempunyai cara
tersendiri dalam memperoleh kenyamanan hidup, mempertahankan kelangsungan hidup
dan dalam berinteraksi sosial dan komunikasi, dimulai dari yang sangat primitif
sampai dengan yang modern;
b. Akal (pengetahuan) sebagai ciri yang paling menonjol dari peradaban. Akal adalah
yang membedakan manusia dari binatang. Dengannya manusia terus mengalami
perkembangan yang tiada henti;
c. Eksperimen (tajribah) sejarah. Setiap generasi dari sebuah
masyarakat mewarisi cara hidup dari generasi sebelumnya dan mencoba
mengembangkan warisan itu, karena tidak mungkin satu generasi tiba-tiba
menciptakan penemuan tanpa pengetahuan atau pengalaman yang diwarisinya dari
generasi sebelumnya;
d. Struktur geografis. Sebuah peradaban pada satu masyarakat sangat
dipengaruhi oleh keadaan geografis yang meliputinya.
Berdasarkan
keterangan Ka>z}im Makkiy, maka setiap masyarakat dan bangsa mempunyai
peradaban tersendiri, namun yang satu lebih maju dari yang lain, karena
perbedaan elemen-elemen tersebut.
Peradaban (hadarah)
adalah sekumpulan konsep adalah sekumpulan konsep (mafahim) tentang
kehidupan. Peradaban bisa berupa peradaban spiritual ilahiyah (diniyyah ilahiyyah)
atau peradaban buatan manusia (wad‘iyyah basyariyyah). Peradaban
spiritual ilahiyah lahir dari sebuah ideologi, sebagaimana peradaban Islam yang
lahir dari akidah Islam. Sedangkan peradaban buatan manusia muncul dari sebuah
ideologi, seperti misalnya peradaban kapitalis Barat yang merupakan sekumpulan
konsep tentang kehidupan yang muncul dari ideologi sekularisme. Peradaban
semacam ini bisa pula tidak berasal dari sebuah ideologi, semisal peradaban
Shinto, Yunani, Babilonia, dan Mesir Kuno. Peradaban-peradaban tersebut sekedar
merupakan sekumpulan konsep yang disepakati sekelompok manusia, sehingga
menjadi sebuah peradaban yang bersifat kebangsaan.
2.
Dunia Barat
Dunia Barat
atau sering disebut Barat saja merujuk kepada negara-negara yang berada di
benua Eropa dan Amerika. Dunia Barat dibedakan dari dunia Barat yang digunakan
untuk merujuk kepada Asia. Meskipun begitu, pada umumnya kata ini lebih sering
diasosiasikan terhadap negara-negara yang mempunyai mayoritas penduduk berkulit
putih. Oleh karena itu, Australia dan Selandia Baru juga sering dianggap
sebagai bagian dari dunia Barat. Orang-orang yang tinggal di dunia Barat
dipanggil orang Barat.[1][10]
Bagi penduduk timur yang masih menjunjung nilai-nilai tradisional
kebudayaan mereka, kehidupan di dunia Barat yang biasanya lebih terbuka kadang
menyebabkan konotasi negatif terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan
dunia Barat. Orang timur yang telah menyerap sebagian dari gaya hidup Barat
biasanya dikatakan sebagai kebarat-baratan oleh kalangan tersebut.
Meskipun demikian, pengaruh Negara-negara adidaya yang terletak di Barat
seperti Amerika Serikat yang semakin besar terhadap dunia secara keseluruhan
telah membuat kesenjangan antara Barat dan Timur semakin memudar.
3.
Sejarah Peradaban Islam
Dalam sejarah perjalanan umat Islam, umat Islam mengalami pasang surut,
baik dalam bidang politik maupun dalam bidang ilmu pengetahuan maupun peradaban
Islam. Hal ini menyebabkan umat Islam mengalami masa kemundururan.
Kebesaran yang dialami pada masa lalu menyebabkan umat Islam mengalami
kemunduran dan kehancuran, sementara dunia Barat mengalami kemajuan, setelah
mereka pernah terlelap tidur akibat daripada dogmatis dari pemuka gereja
selama berabad-abad lamanya.
Melihat pasang surutnya umat Islam tersebut, Harun Nasution membagi
perjalanan sejarah umat Islam ke dalam tiga priode, yaitu; periode klasik
(650-1250 M), periode pertengahan merupakan periode kemunduran umat Islam
(1250-1800 M), dan periode kebagkitan kembali atau biasa disebut priode modern (1800-sekarang).[2][11] Kalau
berpatokan kepada periodesasi yang dikemukakan oleh Harun Nasution, tampaknya
umat Islam hanya mengalami kemajuan kurang lebih enam abad lamanya, malah
kurang dari itu, kalau dilihat dari pembagian periodesasi dari daulah-daulah
Islam, seperti daulah Bani Abbasiyah di Bagdad dan daulah Bani Umayyah
di Spanyol. Apabila dilihat dari sisi politik dan pemerintahan, maka kemunduran
umat Islam malah lebih cepat lagi mungkin hanya kurang lebih empat abad lamanya
dengan terpecah belahnya kekuasaan Islam dalam beberapa daulah pada saat
itu. Hal ini menunjukkan bahwa masa kemundurun lebih lama daripada masa
kemajuan.
Pada masa kejayaan ummat Islam mencapai puncaknya, bangsa Barat terutama
Eropa, masih dalam kegelapan dan kemunduran. Hal ini disebabkan karena ajaran
dogmatis gereja yang begitu kuat dan sangat berpengaruh. Pemimpin gereja pada
saat itu banyak terlibat langsung dalam menangani urusan-urusan dan unsur-unsur
kenegaraan, bahkan para pemuka agama kristen pada masa itu bersifat otoriter
dalaam memaksakan kehendak dan pendapatnya.[3][13] Akibat
kekuasaan gereja yang begitu dominan dalam berbagai aspek kehidupan pada masa
itu, menyebabkan bangsa Barat khususnya Eropa mengalami keterbelakangan dalam
berbagai aspek kehidupan, utamanya dalam hal perkembangan ilmu pengetahuan dan
peradaban.
B. Proses Peradaban Islam Masuk di Barat
Dalam beberapa literatur diungkapkan bahwa proses
masuknya peradaban Islam di dunia barat melalui empat cara sebagai berikut:
1. Andalusia (Spanyol)
Islam pertama kali masuk ke Spanyol pada tahun 711 M.
melalui jalur Afrika Utara. Spanyol sebelum kedatangan Islam dikenal dengan
nama Iberia/Asbania, kemudian disebut Andalusia, ketika negeri subur itu
dikuasai bangsa Vandal. Dari perkataan Vandal inilah orang Arab menyebutnya
Andalusia.[4][14]
Dalam proses penaklukan Spanyol terdapat tiga pahlawan
Islam yang dapat dikatakan paling berjasa memimpin satuan-satuan pasukan ke
sana. Mereka adalah T{a>rif bin Ma>lik, T{a>rik bin Ziya>d, dan
Mu>sa> bin Nus}air. T{a>rif dapat disebut sebagai perintis dan
penyelidik, sedangkan Mu>sa sebagai pengirim pasukan, sementara T{a>riq
bin Ziya>d lebih banyak dikenal sebagai penakluk Spanyol karena pasukannya
lebih besar dan hasilnya lebih nyata, yaitu sebanyak 12.000 pasukan dan berhasil
menaklukan Spanyol pada tahun 92 H. atau 711 M.[5][15]
Kemenangan pertama yang dicapai oleh T{a>riq bin
Ziya>d membuka jalan untuk penaklukan wilayah yang lebih luas lagi.
Gelombang perluasan wilayah berikutnya muncul pada masa pemerintahan Khalifah
‘Umar bin ‘Abd al-‘Azi>z tahun 99 H/717 M., dengan sasarannya menguasai
daerah sekitar pegunungan Pyrenia dan Prancis Selatan. Gelombang kedua terbesar
dari penyerbuan kaum muslimin yang geraknya dimulai pada permulaan abad ke-8 M
ini, telah menjangkau seluruh Spanyol dan melebar jauh ke Prancis Tengah dan
bagian-bagian penting dari Italia.[6][16]
4. Pertukaran perniagaan antara timur dan barat
Peristiwa ini terjadi sejak datangnya bangsa Fatimiah
di Mesir dan menjadikan Mesir sebagai pusat politik, perdagangan dan
kebudayaan. Karena itu penyerangan Mongol di Irak menjadikan Mesir sebagai
ka’bah peradaban Islam di era dinasti Mamalik sebagaimana dikatakan Ibnu
Khaldun.
Mesir telah membantu kemajuan peradaban di Eropa,
adapun kota-kota di Eropa seperti: Pisa, Genova, Venezis, Napoli, Firenze
memiliki hubungan dagang dengan Mesir. Kota-kota inilah yang kemudian menjadi
bangkitnya Eropa atau yang dikenal dengan renaissance serta menjadi
cikal bakal peradaban modern di Eropa.
C. Pengaruh Peradaban Islam di Dunia Barat
Kontak antara dunia Islam dengan dunia Barat terjadi
sejak awal lahirnya agama Islam sekitar abad XV M. Hal ini ditandai dengan
ekspansi yang dilakukan oleh umat Islam dan dapat merebut wilayah-wilayah
kekuasaan kerajaan Romawi pada masa itu, seperti Syam (Siria, Palestina) dan
Mesir. Ekspansi umat Islam ini terjadi sejak pemerintahan khalifah ‘Umar bin Khat}t}a>b.
Pada masa pemerintahan ‘Us\ma>n bin ‘Affa>n pada paruh kedua, ekspansi
umat Islam sempat terhenti. Hal ini terjadi sebagai akibat daripada
komplik-komplik yang terjadi dalam wilayah pemerintahan masa itu. Maka
perluasan wilayah Islam terhenti baik pada masa pemerintahan ‘Us\ma>n bin
‘Affa>n maupun pada masa pemerintahan ‘Ali bin Abi> T{a>lib.
Ekspansi kembali terjadi ketika daulah
Bani> Umayyah berkuasa dan dapat menguasai wilayah-wilayah dan masuk
dalam wilayah kekuasan umat Islam, seperti Afrika Utara, Andalusia (Spanyol),
Kaukasus, dan Antolia. Kekuasaan Islam, di samping Afrika dan Eropa juga Asia.
Ekspansi ke wilayah Timur melalui Sungai Oxus.[7][21]
Perluasan wilayah ke Eropa melalui jalur Utara terhenti ketika pengepungan
kota Bizantium gagal. Pengepungan ini berlangusng selam satu tahun, yaitu
dari tahun Agustus 716-September 717 M. Pengepungan yang cukup lama ini tidak
mampu menjatuhkan kota Bizantium (Tanduk Emas atau Golden Horn). Hal ini
dapat digagalkan dengan menaruh rantai besar di dalam laut.[8][22]
Dengan masuknya Islam ke Spanyol merubah tatanan baru
dan pencerahan terhadap bangsa Eropa dengan sebuah peradaban baru yakni
peradaban Islam yang dibawa oleh bangsa Arab dan masuk melalui Spanyol.
Karenanya, sulit dipungkiri kemajuan Eropa tidak bisa dilepaskan dari
pemerintah Islam di Spanyol.
Montgemary Watt menyebutkan bahwa pengaruh kebudayaan
Islam atas barat dengan tiga hal; Pertama, sumbangan orang Arab ke Barat tidak
diragukan lagi terutama dalam hal-hal yang menyokong perbaikan tingkat
kehidupan dan memperkokoh basis materialnya. Kedua, sebagian besar orang Eropa
kurang menyadari pengaruh orang Arab dan karakter Islam yang mereka ambil dan
ketiga, kesastraan orang-orang Arab dan yang menyertainya telah merangsang
tumbuhnya imajinasi Eropa dan kejeniusan politik orang Romawi.[9][23]
Keterpengaruhan Eropa pada peradaban Islam, bukan saja
pada bidang ilmu pengetahuan akan tetapi juga semangat untuk hidup, sehingga
keterpengaruhan itu bersifat menyeluruh. Reformasi gereja, pembangkangan terhadap
kaum fiodal yang zalim, sistem pendidikan sastra, arsitektur adalah akibat
terpengaruhnya pada peradaban Islam. Menurut M. Qutub, Toga dalam wisuda
itu adalah meniru dari kopiah yang digunakan oleh pelajar Islam yang telah
lulus dari universitas Islam.[10][24]
Di antara bukti-bukti pengaruh Islam di dunia Barat
dapat diklasifikasi dalam beberapa bidang sebagai berikut:
a. Intelektual
Penerjemahan-penerjemahan yang dilakukan oleh umat Islam dari berbagai
bahasa terkait dengan filsafat dan ilmu-ilmu yang lain mengantarkan umat Islam
mencapai puncak kejayaannya. Dari produk terjemahan yang kemudian
diintegrasikan dengan teks-teks al-Qur’an dan hadis serta logika, pencapaian di
bidang keilmuan sampai pada puncaknya. Di antara yang cukup terkenal dengan
produk terjemahannya itu adalah Yahya ibn al-Bitriq (wafat 200 H/ 815 M) yang
banyak menerjemahkan buku-buku kedokteran pemikir Yunani, seperti Kitab
al-H{ayawa>n (buku tentang makhluk hidup) dan Timaeus karya
Plato. Al-H{ajja>j ibn Mat}ar yang hidup pada masa pemerintahan
al-Ma’mu>n dan telah menerjemahkan buku Euklids ke dalam bahasaArab
serta menafsirkan buku al-Majisti karya Ptolemaeus. Abd al-Masih ibn
Na‘i>mah al-Himsi (w. 220 H./835 M.) yang menerjemahkan buku Sophistica
karya Aristoteles. Yuhana ibn Masawaih seorang dokter pandai dari Jundisapur
(w. 242 H/ 857 M.) yang kemudian diangkat oleh khalifah al-Ma’mu>n sebagai
kepala perpustakaan bait al-h{ikmah, banyak menerjemahkan buku-buku
kedokteran klasik. Seorang penerjemah yang sangat terkenal karena banyak
terjemahan yang dilahirkannya adalah H{unain bin Ish{a>q al-Abadi yang
merupakan seorang Kristen Nestorian (194-260 H./ 810-873 M.).[11][25]
1) Filsafat
Islam di Spanyol telah mencatat satu lembaran budaya
yang sangat brilian dalam bentangan sejarah Islam. Ia berperan sebagai jembatan
penyeberangan yang dilalui ilmu pengetahuan Yunani-Arab ke Eropa pada abad
ke-12. minat terhadap filsafat dan ilmu pengetahuan mulai dikembangkan pada
abad ke-9 M selama pemerintahan penguasa Bani Umayyah yang ke-5, Muhammad ibn
Abd al-Rahman (832-886 M). Tokoh utama pertama dalam sejarah filsafat
Arab-Spanyol adalah Abu Bakr Muhammad ibn al-Sayigh yang lebih dikenal dengan
Ibn Bajjah. Tokoh utama yang kedua adalah Abu Bakr ibn Thufail, penduduk asli
Wadi Asa, sebuah dusun kecil di sebelah timur Granada dan wafat pada usia
lanjut tahun 1185 M.
2) Sains
‘Abba>s bin Fama termasyhur dalam ilmu kimia dan
astronomi. Ia orang yang pertama kali menemukan pembuatan kaca dari batu.
Ibra>hi>m bin Yah{ya> al-Naqqa>s} terkenal dalam ilmu astronomi. Ia
dapat menentukan waktu terjadinya gerhana matahari dan menentukan berapa
lamanya. Ia juga berhasil membuat teropong modern yang dapat menentukan jarak
antara tata surya dan bintang-bintang. Dalam bidang sejarah dan geografi,
wilayah Islam bagian barat melahirkan banyak pemikir terkenal. Ibn Jubair dari
Valencia (1145-1228 M.) menulis tentang negeri-negeri muslim Mediterania dan
Sicilia dan Ibn Bat}u>t}ah dari Tangier (1304-1377 M.) mencapai Samudra
Pasai dan Cina. Ibn Khaldu>n (1317-1374 M) menyusun riwayat Granada,
sedangkan Ibn Khaldu>n dari Tum adalah perumus filsafat sejarah. Semua
sejarawan di atas bertempat tinggal di Spanyol yang kemudian pindah ke Afrika.
3) Musik dan Kesenian
Dalam bidang musik dan seni suara, Spanyol Islam
mencapai kecemerlangan dengan tokohnya al-H{asan bin Na>fi‘ yang dijuluki
Zirya>b. Setiap kali diadakan pertemuan dan jamuan, Zirya>b selalu tampil
mempertunjukkan kebolehannya. Ia juga terkenal sebagai pengubah lagu. Ilmu yang
dimilikinya itu diturunkan kepada anak-anaknya, baik pria maupun perempuan, dan
juga kepada budak-budak, sehingga kemasyhurannya tersebar luas.[12][28]
4) Bahasa dan Sastra
Bahasa Arab telah menjadi bahasa administrasi dalam
pemerintahan Islam di Spanyol. Di antara para ahli yang mahir dalam bahasa
Arab, baik keterampilan berbicara maupun tata bahasa yaitu Ibn Sayyidih, Ibn Malik
pengarang Alfiyah, Ibn Haruf, Ibn al-Hajj, Abu ‘Ali al-Isybili, Abu
al-Hasan bin ‘Usfur, dan Abu Hyyn al-Garnat
5) Bidang Kesehatan
Pada akhir abad ke-7 M. Khalid bin Yazid(cucu pertama
dari khalifah Bani Umayyah) merupakan yang pertama dalam sejarah kekhalifahan
umat Islam yang belajar ilmu kesehatan kepada John (seorang ahli bahasa dari
Alexandria) dan beliau juga belajar kimia kepada Marrinos dari Yunani.[13][29] Ahad ibn Ibas
dari Cordova adalah ahli dalam bidang obat-obatan. Umi al-Hasan bint Abi Ja‘far
dan saudara perempuan al-Hafidzh adalah dua orang ahli kedokteran dari kalangan
wanita.
6)
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kemajuan Eropa yang terus berkembang hingga saat ini
banyak berhutang budi kepada khazanah ilmu pengetahuan Islam yang berkembang di
periode klasik. Dengan demikian, pengaruh peradaban Islam sangat besar terhadap
dunia Barat.
1. Peradaban Islam masuk di Eropa dengan empat cara yaitu saluran peradaban
Islam yang mempengaruhi Eropa melalui Spanyol, Sisilia, perang Salib maupun
pertukaran perniagaan, akan tetapi saluran yang terpenting dalam hal ini adalah
Spanyol Islam. Spanyol merupakan tempat yang paling utama bagi Barat menyerap
peradaban Islam, baik dalam hubungan politik, sosial, ekonomi maupun peradaban
antar negara. Bahwa suatu kenyataan sejarah Spanyol selama tujuh abad lebih
berada dalam kekuasaan Islam.
2. Pelacakan historis menjadi sangat logis bahwa peradaban Barat dibangun dari rahim fase sejarah Islam menduduki Spanyol. Secara sosial
politik, Islam dalam posisi yang sangat kuat untuk melakukan ekspansi dan
secara peradaban dalam Puncak keemasaannya. Proses ekspansi ini diikuti dengan transfer of sciense dari kaum muslimin
ke penduduk Spanyol saat itu.
Kebudayaan terbuka dan dermawan ilmu yang dibangun oleh kaum Muslimin saat itu, menjadikan setiap
kelompok, daerah, atau suku bangsa sangat terbuka lebar menimba ilmu
pengetahuan dari kaum Muslimin di Spanyol, termasuk banyak orang-orang Eropa
yang menimba ilmu pengetauan dalam berbagai
bidang dari Muslim Spanyol, baik ilmu-ilmu ‘aqli>> maupun ilmu naqli>.
Ketika mereka sudah kembali ke daerah
masing-masing banyak yang mengembangkan ilmu pengetahuan tersebut di daratan Eropa.
B. Implikasi
Kemajuan peradaban itu dipengaruhi oleh kemajuan
intelektual yang di dalamnya terdapat ilmu filsafat, sains, fikih, musik dan
kesenian, begitu juga dengan bahasa dan sastra, dan kemegahan pembangunan
fisik. Islam telah membuktikan pada masa lalu bahwa dengan kemajuan
intelektual, khususnya ilmu filsafat, kejayaan dan keemasan akan diraih dan
dirasakan.
Hal tersebut dapat dilihat dari pengaruh peradaban Islam dalam dunia
pendidikan. Pemikiran ibnu Sina, al-Ra>zi> dan Ibnu Rusyd merupakan
pemikiran yang paling banyak dipelajari. Banyaknya para pemuda Eropa yang
belajar ke univesitas-universitas Islam di Spanyol, seperti universitas
Cordova, Sevile, Granada, Malaga dan Salamanca yang aktif menterjemahkan
buku-buku karya ilmuwan-ilmuwan muslim di Toledo dibawa pulang ke negerinya
kemudian mendirikan sekolah dan universitas di sana.
Hal tersebut dapat dibuktikan dengan universitas pertama di Eropa adalah
universitas Paris yang didirikan tahun 1231 M, tiga puluh tahun setelah
wafatnya Ibnu Rusyd. Di akhir zaman pertengahan Eropa, baru berdiri 18 universitas.
Ilmu yang mereka peroleh dari universitas adalah ilmu kedokteran, ilmu pasti
dan filsafat.Pengaruh ilmu pengetahuan dan peradaban Islam di Eropa yang
berlangsung abad 12 M. itu menimbulkan gerakan kebangkitan kembali (renaissance)
pusaka Yunani di Eropa abad ke 14 M. berkembangnya pemikiran Yunani di Eropa
ini melalui terjemahan-terjemahan Arab yang dipelajari dan diterjemahkan
kembali ke dalam bahasa latin.
Namun umat Islam tidak boleh hanya sekedar mengingat masa kejayaan Islam
dan pengaruhnya terhadap dunia barat, akan tetapi umat Islam harus bangkit dan
merebut kembali kejayaan-kejayaan masa lalu melalui renaissance Islam
dengan banyak mengirimkan anak-anak terbaik Islam belajar ke dunia barat agar
dapat pulang dengan membawa keilmuan mereka dan mengembangkannya untuk Islam
sebagaimana yang dilakukan pada masa Bani ‘Abbasiyah yang kemudian
dilakukan juga oleh orang-orang Barat terhadap keilmuan Islam.
Akhirnya, sejarah akan berulang meskipun dalam suasana, subyek dan obyek
yang berbeda akan tetapi subtansinya sama. Mudah-mudahan kebangkitan dan
kemajuan Islam kembali di raih setelah hilang sejak abad ke-14 hingga sekarang.
Amin.
DAFTAR PUSTAKA
Armstrong,
Karen. Berperang demi Tuhan; Fundamentalisme dalam Islam, Kristen dan
Yahudi. Cet. III; Jakarta: Mizan, 2002 M.
Departemen Pendidikan RI. Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat
Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2008.
Fauzi, Rifqi. Renaissance Eropa dan Pengaruhnya terhadap
Perkembangan Pemikiran Islam, 07 September 2012, http://fauzidex.multiply.com (21 September
2012).
Hadiwyono, Harun. Sari Sejarah
Filsafat Barat II. Cet. VI; Yogyakarta: Kanisius, 1990.
Hitti, Philip K. Histrory of the Arabs. Cet. I; Jakarta: PT. Serambi
Ilmu Semesta, 1429 H./2008 M.